Rabu, 28 Desember 2011

konsep dasar perkembangan peserta didik

KONSEP DASAR PERKEMBANGAN PESERTA DIDIK





Disusun oleh :
DWI NURYANI
ERNA RUWANTI
IKA YUNITA
KURNIA SETIA NINGRUM



FAKULTAS AGAMA ISLAM
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA
2008/2009
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Jakarta (KR) – “mau menghadapi era globalisasi sekarang ini, mau tak mau Indonesia membutuhkan tenaga-tenaga sumber daya manusia (SDM) terbarukan. Selain menguasai iptek, tentunya SDM terbarukan harus beriman dan bertakwa”.
Tanggapan di atas adalah penuturan BJ Habibie pada acara ‘Tribute to Prof Dr M Quraish Shihab’ di kampus UIN Jakarta yang dikutip oleh wartawati Kedaulatan Rakyat edisi senin pon 16 November 2009 halaman 10 kolom 2 baris ke 2. Menyikapi hal itu, kita sebagai calon pendidik haruslah bisa membuat bagaimana generasi kita yang akan dating sesuai dengan yang diharapkan beliau.
Dengan mengetahui perkembangan peserta didik atau siswa maka, kita akan lebih mudah untuk membuat generasi penerus kita ini berkualitas, dengan mengetahui konsep-konsep perkembangan peserta didik.

B. Rumusan Masalah
1. Apa hakikat dari perkembangan peserta didik?
2. Bagaimana konsep perkembangan peserta didik?
3. Bagaimana cara mengoptimalkan kecerdasan yang dimiliki peserta didik?

C. Tujuan
1. Untuk mengetahui hakikat perkembangan peserta didik berupa pengertian, tugas, factor, dan fase-fase perkembangan peserta didik.
2. Untuk mengetahui konsep-konsep dasar yang dialami oleh peserta didik.
3. Untuk mengetahui cara-cara mengoptimalkan kecerdasan p[eserta didik berupa IQ, EQ dan SQ atau ESQ.
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Perkembangan dan Peserta Didik
Untuk mengetahui arti perkembangan para ahli sependapat bahwa perkembangan adalah suatu perubahan, kearah yang lebih maju, lebih dewasa, secara teknis perubahan itu merupakan proses. Mengenai proses ini para ahli berbeda pendapat. Perbedaan pendapat para ahli ini di golongkan ke dalam konsepsi aliran-aliran, antara lain aliran asosiasi, gestalt dan neo-gestalt, serta aliran sosiologisme.perinciannya sebagai berikut :
1. Aliran asosiasi
Pada hakekatnya perkembangan adalah proses asosiasi. Yang primer adalah bagian-bagian, bagian-bagian ada lebih dahulu sedangkan keseluruhan ada lebih kemudian. Contoh pengertian lonceng pada anak-anak. Menurut aliran asosiasi kemungkinan anak akan mendengar bunyi lonceng kemudian anak akan memperoleh kesan pendengaeran mengenai lonceng, kemudian anak-anak akan melihat lonceng tersebut kemudian akan memperoleh kesan penglihatan berupa bentuk, dan warna lonceng,lalu anak meraba lonceng tersebut sehingga memperoleh gambaran kasar atau hal;us. Jadi gambaran mengenai lonceng ini makin lama makin lengkap satu dengan yang lain saling berhubungan. Tokoh aliran ini adalah John Locke, ia berpendapat bahwa pada permulaannya jiwa anak itu adalah bersih semisal selembar kertas putih, yang kemudian sedikit demi sedikit terisi oleh pengalaman atau empiri.
2. Aliran gestalt
Aliran ini merupakan kebalikan dari aliran asosiasi. Perkembngan menurut aliran ini adalah proses diferensiasi. Misal seorang anak melihat mobil, di dalam pikirannya semua kendaraan beroda 4 adalah mobil, lama kelamaan dia tahu jenis-jenis mobil berupa truk, jeep, sedan, tankki dll.
Aliran neo-gestalt yang dirilis oleh Kurt Lewin selain proses diferensiasi juga ada proses stratifikasi. Struktur pribadi terdiri dari lapisan-lapisan (strata), lapisan itu makin lama makin bertambah. Missal anak kecil baru mempunyai satu lapisan, oleh karena itu anak kecil tidak akan berdusta, semakin dewasa akan bertambah pula lapisannya.
3. Aliran sosiologis
Perkembangan adalah proses sosialisasi. Seorang anak mula-mula bersifat a-sosial atau pra-sosial yang kemudian perkembangannya sedikit demi sedikit disosialisasikan. Penganut aliran ini adalah James Mark Baldwin (1864-1934), Freudian, dll
Pengertian Peserta Didik
Peserta didik dalam arti luas adalah setiap orang yang terkait dengan proses pendidikan sepanjang hayat, sedangakan dalam arti sempit adalah setiap siswa yang belajar disekolah (Sinolungan, 1997). Departemen Pendidikan Nasional (2003) menegaskan bahwa, peserta didik adalah angota masyarakat yang berusaha mengembangkan dirinya melalui jalur, jenjang dan jenis pendidikan. Peserta didik usia SD/MI adalah semua anak yang berada pada rentang usia 6-12/13 tahun yang sedang berada dalam jenjang pendidikan SD/MI.
Peserta Didik merupakan subjek yang menjadi fokus utama dalam penyelenggaraan pendidikan dan pembelajaran. Penting anda pahami sebagai guru kelas SD bahwa pemahaman dan perlakuan terhadap peserta didiksebagai suatu totalitas atau kesatuan.
Sinolungan (1997) juga mengemukakan, manusia termasuk peserta didik adalah mahluk totalitas ”homo trieka”. Ini berarti manusia termasuk peserta didik merupakan (a) mahluk religius yang menerima dan mengakui kekuasaan Tuhan atas dirinya dan alam lingkungan sekitarnya, (b) mahluk sosial yang membutuhkan orang lain dalam berinteraksi dan saling mempengaruhi agar berkembang sebagai manusia; serta (c) mahluk individual yang memiliki keunikan (ciri khas, kelebihan, kekurangan, sifat dan kepribadian, dll.), yang membedakan dari individu lain.
Jadi dalam mempelajari dan memperlakuakan peserta didik, termasuk peserta didik usia SD/MI hendaknya dilakukan secara utuh, tidak terpisah-pisah. Kita harus melihat mereka sebagai suatu kesatuan yang unik, yang terkait satu dengan yang lainnya.

B. Tugas Perkembangan
Perkembangan menurut Robert J. Havighurs adalah sebagian tugas yang muncul pada suatu periode tertentu dalam, kehidupan individu, yang merupakan keberhasilan yang dapat memberiknn kebahagian serta memberi jalan bagi tugas-tugas berikutnya. Kegagalan akan menimbulkan kekecewaan bagi individu, penolakan oleh masyarrkat dan kesulitan untuk tugas perkembangan berikutnya.
a. Tugas perkembangan pada masa kanak-kanak
1. Belajar berjalan
2. Belajar makan makanan padat.
3. Belajar mengendalikan gerakan badan.
4. . Mempelajari peran yang sesuai dengan jenis kelaminnya.
5. Memperoleh stabilitas fisiologis.
6. Membentuk konsep-konsep sederhana tentang kenyataan sosial dan fisik
7. Belajar inenghubungkan diri secara emosional dengan orang tua, kakak adik dan orang lain.
8. Belajar membedakan yang henar dan salah.
b. Tugas perkembangan masa anak
1. Mempelajari keterampilan fisik yang diperlukan untuk permainan
tertentu.
2. Menibentuk sikap tertentu terhadap dfri sendiri sebagai organisme yang
sedang tumbuh.
3. Belajar bergaul secara rukun dengan teman sebaya
4. Mempelajari peranan yang sesuai dengan jenis kelamin
5. Membina keterampilan dasar dalarr membaca, menulis dan berhitung.
6. Mengembangkan konsep-konsep yang diperlukan dalam kehidupan
sehari-hari.
7. Membentuk kata hati, mbralitas dan nilai-nilai
8. Memperoleh kebebasan diri.
9. Mengembangkan sikap-sikap terhadap kelompok-kelompok dan lembaga sosial.
c. Tugas perkembangan masa Remaja
1. Memperoleh hubungan-hubungan baru dan lebih matang dengan yang sebaya dari keduajenis kelamin.
2. Memperoleh peranan sosial dengan jenis kelamin individu.
3. Menerima fisik dari dan menggunakan badan secara efektif.
4. Memperoleh kebebasan diri melepaskan ketergantupgan diri dari orang tua dan orang dewasa lainnya.
5. Melakukan pemilihan dan persiapan untuk jabatan
6. Memperoleh kebebasan ekonomi.
7. Persiapan perkavvinan dan kehidupan berkeluarga
8. Mengembangkan keterampilan intelektuai dan konsep-konsep yang diperlukan sebagai warga negara yang baik.
9. Memupuk dan memperoleh perilaku yang dapat dipertanggung jawabkan secara sosial.
10. Memperoleh seperangkat nilai dan sistem etika sebagai pedoman berperilaku.

d. Tugas perkembangan masa dewasa awal .
1. Memilih pasangan hidup.
2. Belajar hidup dengan suami atau istri.
3. Memulai kehidupan berkeluarga.
4. Membimbing dan merawat anak.
5. Mengolah rumah tangga
6. .Memulai suatu jabatan.
7. Menerima tanggung javvab sebagai warga negara.
8. Menemukan kelompok sosial yang cocok dan menarik.
e. Tugas-tugas perkembangan masa setengah baya
1. Memperoleh tanggung jawab sosi?l dan warga negara.
2. Membangun dan mempertahankan s’andar ekonomi.
3. Membantu anak remaja untuk menjadi orang dewasa yang bertanggung jawab dan bahagia.
4. Membina kegiatan pengisi waktu serggang orang dewasa.
5. Membina hubungan dengan pasanga.i hidup sebagai pribadi.
6. Menerima dan menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan fisik sendiri.
7. Menyesuaikan diri dengan pertambuhan umur
f. Tugas-tugas perkembangan orang tua
1. Menyesuaikan diri dengan menurunnya kesehatan dan kekuatan fisik.
2. Menyesuaikan diri terhadap masa pensiun dan menurunnya pendapatan.
3. Menyesuaikan diri terhadap meninggalnya suami/istri.
4. Menjalin hubungan dengan perkumpulan manusia usia lanjut.
5. Memenuhi kewajiban sosial dan sebagai warga negara.
6. Membangun kehidupan fisik yang memuaskan.
Menurut Havighurst setiap tahap perkembangan individu harus sejalan dengan perkembangan aspek-aspek. lainnya, yaitu fisik, psikis serta emosional, moral dan sosial. Dikemukakannya perkembangan yang dicapai individu pada masa kanak-kanak, masa anak, masa remaja, masa dewasa awal, masa setengah baya dan masa tua.
Ada dua alasan mengapa tugas-tugas perkembangan ini penting bagi pendidik. Pertama, membantu memperjelas tujuan yang akan dicapai seholah. Pendidikan dapat dimengerti sebagai usaha masyarakat,- melalui sekolah, dalam membantu individu mencapai tugas-tugas perkembangan tertentu. Kedua, konsep ini dapat dipergunakan sebagai pedoman. waktu untuk melaksanakan usaha-usaha pendidikan. Bila individu telah mencapai kematangan, siap untuk mencapai tahap tugas tertentu serta sesuai dengan tuntutan masyarakat, maka dapat dikatakan bahwa saal untuk mengajar
Individu yang bersangkutan (the-teachable moment) telah tiba. Bila mengajarnya pada saat yang tepat maka liasil pengajaraft yang optimal dapat dicapai.

C. Factor-Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan
Dalam menentukan factor-faktor yang mempengaruhi perkembangan siswa, para ahli berbeda pendapat karena sudut pandang yang mereka gunakan tidak sama. Pendapat yang bermacam-macam itu dapat digolongkan kedalam 3 macam yaitu
a. Aliran Nativisme
Perkembangan individu semata-mata ditentukan oleh factor-faktor yang dibawa sejak lahir (natus artinya lahir), tokohnya adalah Scopenhaeur, Plaato, Descartes, Lombroso dll.ex: jika orang tua pintar dalam computer maka anak akan pintar computer. Aliran ini sudah tidak terlalu berpengaruh seperti zaman dahulu.


b. Aliran Empirisme
Aliran ini merupakan kebalikan dari aliran nativisme. Perkembangan itu semata-mata bergantung pada factor lingkungan, sedangkan keturunan tidak berperan sama sekali. Tokoh utama John Locke. Doktrin yang terkenal adalah tabula rasa bahasa latin yang berarti batu tulis kosong atau lembaran kosong. Menekan pada arti penting pengalaman, lingkungan, dan pendidikan. Ex : anak orang kaya atau orang pandai mengecewakan orang tuanya karena kurang berhasil di dalam belajar walaupun fasilitas-fasilitas sangat luas, sedangkan ada anak orang miskin atau kurang mampu sangat berhasil dalam belajar, walaupun fasilitas yang mereka perlukan sangat jauh dari mencukupi, jadi aliran empirisme tidak tahan uji.
c. Aliran Konvergensi
Didalam perkembangan individu baik dasar atau bawaaan maupun lingkungan memainkan peranan penting. Bakat yang sudah ada di dalam masing-masing individu, perlu adanya lingkungan yang sesuai supaya dapat berkembang dengan baik.ex: manusia mempunyai kaki untuk berdiri tegak jika dia berada di lingkungan manusia, akan tetapi jika dia di asuh oleh srigala kemungkinan dia akan berdiri seperti srigala.

D. Fase-Fase Perkembangan peserta didik
Dalam ilmu jiwa perkembangan kita kenal beberapa pembagian masa hidup anak yang disebut sebagai fase. Fase perkembangan ini mempunyai cirri-ciri yang relative sama, berupa kesatuan-kesatuan peristiwa yang bulat.
Aristoteles (384-322 SM) membagi masa perkembangan selama 21 tahun dalam 3 septenia ( 3 periode kali 7 tahun) yang dibatasi oelh 2 gejala alamiah yang penting, yaitu pergantian gigi dan munculnya gejala-gejala pubertas. Hal ini berdasarkan pada paralelitas perkembangan jasmaniah dengan perkembangan jiwa anak. Pembagian ini meliputi :
0-7 tahun, disebut sebagai masa kecil, masa bermain
7-14 tahun, masa anak-anak, masa belajar atau masa sekolah
14-21 tahun, masa remaja atau pubertas, masa peralihan dari anak menjadi orang dewasa.
Prof. Kohnstamm dalam bukunya “persoonlijkheid in wording” membagi perkembangan kedalam beberapa fase sebagai berikut:
1. Masa bayi atau masa vital
2. Masa anak kecil, masa esthetis
3. Masa nak sekoalh, masa intelektuil
4. Masa pubertas dan adolensasi, masa social
5. Manusia yang sudah matang
Menurut Kohnstamm, manusia selalu dalam proses perkembangan, ia tidak akan pernah selesai walaupun dengan bertambahnya usia.
Johan Amos Comenius (1592-1671) dalam bukunya “didactica Magna” menitik beratkan aspek pengajaran dari proses pendidikan dan perkembangan anak. Comenius membagi periode perkembangan sebagai berikut:
0-6 tahun, periode sekolah-ibu, semua usaha bimbingan-pendidikan berlangsung ditengah keluarga terutama oleh ibu.
6-12 tahun, periode sekolah-bahasa-ibu. Anak baru mampu menghayati setiap pengalaman dengan pengertian bahasa sendiri atau bahasa ibu. Bahasa ibu digunakan untukl berkomunikasi dengan orang lain untuk mendapatkan impresi dari luar berupa pengaruh, sugesti, serta transmisi kulturil (pengoperan nilai-nilai kebudayaan) dari orang dewasa.
12-18 tahun, periode sekolah-latin anak mulai diajarkan bahasa latin atau bahasa kebudayaan, agar anak bisa mencaapi teraf yang beradab dan berbudaya.
18-24 tahun, periode-universitas anak mudah mengalami proses pembudayaan dengan menghayati nilai-nilai ilmiah dan mempelajari bermacam-macam ilmu pengetahuan.

E. Konsep Dasar Tentang Perkembangan Peserta Didik
Konsep-konsep dasar yang berkenaan dengan perkembangan peserta didik adalah pertumbuhan, kematangan, kedewasaan, perkembangan,, perkembangan yang normal.
a. Pertumbuhan
Pertumbuhan ialah pertamabhan secara kuantitatif dari substansi atau struktur yang umumnya ditandai dengan perubahan-perubahan biologis pada diri seseorang ayng menuju ke arah kematangan. Pertumbuhan fisik berjalan dengan cara yang berbeda-beda. Misalnya, pada otak,tinggi badan, perpanjangan tangan, pertumbuhan bahasa dan lain-lain.
Pertumbuhan ini bersumber dari bakat dan pengaruh lingkungan. Ada yang dominan antara bakat dengan lingkungan. Pada mata, telinga, kaki, tangan sangat ditentukan oleh heriditas peserta didik, keturunan keluarga, suku atau kombinasi antara keduanya, sedangkan pada pertambahan tinggi dan berat badan dipengaruhi oleh lingkungan yaitu factor makanan.
b. Kematangan dan maturasi
Kematangan adalah tingkat atau keadaan yang harus dicapai dalam proses perkembangan perorangan sebelum ia dapat melakukan sebagaimana mestinya pada bermacam-macam tingkat pertumbuhan mental, fisik, social, dan emosional.
Kedewasaan (maturation) ialah kemajuan pertumbuhan yang normal kearah kematangan. Proses maturasi disebabkan oleh factor pertumbuhan dari dalam pada berbagai kapasitas dan struktur, misalnya pertumbuhan otot tangan sehingga dapat berfungsi untuk melakukan tujuan-tujuan khusus seperti menulis.
c. Perkembangan
Perkembangan menggambarkan perubahan kualitas dan abilitas dalam diri seseorang, yakni adanya perubahan dalam struktur, kapasitas, fungsi dan efisiensi. Perkembangan itu bersifat keseluruhan, misalnya perkembangan intelektual, emosional, spiritual, adalah hubungan satu sama lain. Misalnya perkembangan membaca, meliputi perkembangan otot mata, kapasitas membaca, kemampuan membedakan, perkembangan suara, pengalaamn, social, dan emosional. Perkembangan itu umumnya berjalan lambat, karena itu guru harus memperhatikan dengan teliti.
d. Perkembagnan yang normal
Perkembangan noramal dapat dilihat dari segi pola perkembangan individu peserta didik. Perkembangan ini berbeda untuk setiap individu seperti : yang lebih dulu pandai berjalan sedangkan yang lain lebih cepat berbicara. Selain itu perkembangfan juga dapat dilihat dari segi usia kronologis. Tingkat usia dijadiakn dasar untuk menentukan normal atau tidaknya perkembangan seorang siswa. Perkembangan yang normal dapat dilihat bahwa pada tingkat umur tertentu siswa telah daapat mengerjakan sesuatu yang belum dapat dianggap tidak normal.

F. Mengoptimalkan Kecerdasan Peserta Didik
Tidak ada anak yang bodoh atau pintar, yang ada adalah anak yang menonjol dalam salah satu atau beberapa jenis kecerdasan. Cara yang baik untuk mengenali kecerdasan yang paling berkembang pada diri anak adalah dengan mengamati cara mereka memanfaatkan waktu luang. Mereka bebas memilih kegiatan yang disukainya.kecerdasan pada usia 4 tahun mencapai 50 %, usia 8 tahun 80% dan pada 18 tahun mencapai 100%, jadi pendidikan diusia dini sangat penting untuk membantu mengembangkan kecerdasan anak. Gardner menggunakan kata kecerdasan sebagia ganti bakat. Menurutnya, kecerdasan dapat diidentifikasi menjadi 9 kecerdasan yaitu: kecerdasan logis matematis, kecerdasan linguistic-verbal, kecerdasan spasial-visual, kecerdasan musiakl, kecerdasan kinetis-ragawi, kecerdasan naturalis, kecerdasan intrapersonal, kecerdasan interpersonal, kecerdasan eksistensial. Sembilan kecerdasan ini sering dikerucutkan menjadi IQ (intelegence Quotient), EQ (emotional Quotient), dan SQ (spiritual Quotient).
a. IQ (intelegence Quotient)
IQ hanyalah mengukur sebagian kecil dari kecakapan. IQ juga bukan ukuran yang menentukan kesuksesan. Anak yang cerdas adalah anak yang bisa bereaksi secara logis dan berguna terhadap apa yang dialami di lingkungannya. IQ merupakan angka yang di[akai untuk menggambarkan kapasitas berpikir seseorang dibandingkan dengan rata-rata oranglain. Ex: Beethoven composer terkenal yang memiliki kemampuan luarbiasa di bidang musical, namun memiliki keterbatasan pada kemampuan matematika dan bahasa, ini berarti jika IQ yang rendah memang diikuti oleh tingkat kreativitas yang rendah tapi IQ yang tinggi belum tentu diikuti kreativitas yang tinggi.
Semua orang memiliki kecerdasan, tetapi tidak ada orang yang sama walau kembar sekalipun dan ini terjadi berkat pengaruh genetic dan lingkungan yang berbeda pada setiap orang.
b. EQ (emotional Quotient)
Kecerdasan emosional dapat dilatih pada anak sejak dini. Pencetus EQ adalah Daniel Goleman dalam bukunya Emotional Intelegence. Salah satu pelajaran emosi yang paling mendasar bagi anak adalah bagaimana membedakan perasaannya.kecedasan IQ harus diiringi dengan kecerdasan EQ. dalam berbagai penelitian dalam bidang psikologi bahwa anak yang memiliki EQ tinggi adalah anak-anak yang bahagia, percaya diri, popular, dan lebih sukses. Adapun cara meningkatkan kecedasan EQ anak adalah :
1. Mengajarkan cara berpikir realistis dan optimis
2. Membuat kartu emosi
3. Orang tua hendaknya mendengarkan curahan hati anak
4. Orang tua hendaknya membacakan dongeng atau buku bersama
5. Bermain peran atau drama
6. Melibatkan anak dengan kegiatan olahraga atau organisasi
7. Banyak memberikan pujian dan motivasi kepada anak.
c. SQ (spiritual Quotient).
SQ (Spiritual Quotient) adalah kemampuan untuk memimpin diri, mengetahui tujuan hidup dan mengatasi frustrasi dan depresi. SQ membuat seseorang bersikap tidak egois dan memiliki empati kepada orang lain.
Belum ada penelitian yang terperinci mengenai SQ ini, akan tetapi SQ berhubungan dengan agama anak. SQ anak akan berkembang jika orang tua mampu dan bisa menerapkan fungsi keagamaan yang baik pada diri anak, kemudian di lanjutkan dengan lingkungan baik di rumah, sekolah, maupun linggkungan masjid.
Hasil penelitian dari Prof. Dr. Daniel Colleman, “bapak manajemen” dari AS menunjukkan bahwa keberhasilan seseorang hanya 20% dipengaruhi oleh IQ. Selebihnya 80% dipengaruhi oleh EQ dan SQ.
Di Indonesia, ada dua orang yang berjasa besar dalam mengembangkan dan mempopulerkan kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual yaitu K.H. Abdullah Gymnastiar atau dikenal AA Gym, da’i kondang dari Pesantren Daarut Tauhiid – Bandung dengan Manajemen Qalbu-nya dan Ary Ginanjar, pengusaha muda yang banyak bergerak dalam bidang pengembangan Sumber Daya Manusia dengan Emotional Spritual Quotient (ESQ)-nya.
Dari pemikiran Ary Ginanjar Agustian melahirkan satu model pelatihan ESQ yang telah memiliki hak patent tersendiri. Konsep pelatihan ESQ ala Ary Ginanjar Agustian menekankan tentang :
1. Zero Mind Process; yakni suatu usaha untuk menjernihkan kembali pemikiran menuju God Spot (fitrah), kembali kepada hati dan fikiran yang bersifat merdeka dan bebas dari belenggu
2. Mental Building; yaitu usaha untuk menciptakan format berfikir dan emosi berdasarkan kesadaran diri (self awareness), serta sesuai dengan hati nurani dengan merujuk pada Rukun Iman
3. Mission Statement, Character Building, dan Self Controlling; yaitu usaha untuk menghasilkan ketangguhan pribadi (personal strength) dengan merujuk pada Rukun Islam
4. Strategic Collaboration; usaha untuk melakukan aliansi atau sinergi dengan orang lain atau dengan lingkungan sosialnya untuk mewujudkan tanggung jawab sosial individu
5. Total Action; yaitu suatu usaha untuk membangun ketangguhan sosial (Ari Ginanjar, 2001).














BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Dari kesuluruhan dapat ditarik kesimpulan antara lain :
1. Pengertian perkembangan yaitu suatu perubahan, kearah yang lebih maju, lebih dewasa, secara teknis perubahan itu merupakan proses. Proses disini menurut para ahli berbeda pendapat. Pendapat itu digolongkan menjadi aliran-aliran diantaranya asosiasi, gestalt, dan sosiologis. Sedangkan peserta didik berarti setiap orang yang terkait dengan proses pendidikan sepanjang hayat.
2. Perkembangan memiliki tugas yang dibagi dalam tugas perkembangan di masa kanak-kanak, masa anak, masa remaja, masa dewasa awal, masa setengah baya, dan masa orang tua.
3. Factor-faktor yang mempengaruhi perkembangan peserta didik menurut para ahli di bagi dalam aliran Nativisme, empirisme dan konvergensi.
4. Dalam perkembangan peserta didik mengalami beberapa fase. Menurut Kohnstamm, manusia selalu dalam proses perkembangan, ia tidak akan pernah selesai walaupun dengan bertambahnya usia.
5. Konsep dasar perkembangan peserta didik adalah pertumbuhan, kematangan dan maturasi (kedewasaaan), perkembangan dan perkembangan yang normal.
6. Dalam meningkatkan IQ, EQ dan SQ orang tua harus mengetahui bagaimana memicu stimulant-stimulan yang berpengaruh pada otak anak begitu juga guru atau pendidik.

B. Saran
Anak selalu berkembang seiring dengan zaman, anak-anak zaman sekarang berbeda dengan anak-anak zaman dahulu dan masa depoan untuk itu perlu di tingkatkan adanya sosialisasi bagi guru, pendidik, calon pendidik dan orang tua peserta didik demi memajukan bangsa Indonesia.





DAFTAR PUSTAKA



Dr. H. Ahmad Fauzi. 2008. Psikologi Umum. Bandung: Pustaka setia
Dra. Kartini Kartono. 1986. Psikhologi Anak. Bandung : Alumni
Prof. Dr. Oemar Hamalik. 2001. Proses Belajar Mengajar. Jakarta: Bumi Aksara
Sri Widayati, Dra. Utami Widijati. 2008. Mengoptimalkan 9 Zona Kecwerdasan
Anak. Yogyakarta : Luna Puplisher
Suryabrata, Sumadi. 1984. Psikologi Pendidikan. Jakarta : CV. Rajawali.

http://massofa.wordpress.com/2008/04/25/hakikat-pertumbuhan-dan-perkembangan-peserta-didik-bag-2/
http://ipotes.wordpress.com/2009/06/06/konsep-dasar-perkembangan-belajarpeserta-didik/
http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/01/12/iq-eq-dan-sq-dari-kecerdasan-tunggal-ke-kecerdasan-majemuk/

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar